Sering kali kita membayangkan sejarah Islam hanya terpusat di Timur Tengah, Afrika Utara, atau Asia Tenggara. Padahal, jejak peradaban Islam tersebar luas di berbagai penjuru dunia—termasuk di negara-negara yang saat ini mayoritas penduduknya bukan Muslim. Fakta-fakta sejarah berikut mungkin akan membuat Anda merinding sekaligus takjub.
1. Spanyol: 800 Tahun Kejayaan di Jantung Eropa
Bayangkan Eropa abad pertengahan. Siapa sangka, di ujung barat benua itu pernah berdiri salah satu peradaban Islam paling gemilang sepanjang sejarah?
Islam masuk ke Spanyol pada 711 M, ketika Thariq bin Ziyad menyeberangi Selat Gibraltar dan mengalahkan Kerajaan Visigoth dalam Pertempuran Guadalete. Wilayah yang dikuasai Islam di Semenanjung Iberia ini dikenal dengan nama Al-Andalus—mencakup Spanyol, Portugal, dan sebagian Perancis selatan.
Di sinilah lahir pusat-pusat peradaban dunia: Cordoba menjadi kota terbesar dan termaju di Eropa, dengan perpustakaan yang menyimpan ratusan ribu manuskrip. Granada menyimpan keindahan Istana Alhambra yang masih berdiri megah hingga kini. Ilmu pengetahuan, filsafat, kedokteran, dan astronomi berkembang pesat, dan warisan intelektual Al-Andalus kemudian ikut memengaruhi kebangkitan ilmu pengetahuan di Eropa (Renaissance).
Kejayaan ini berlangsung selama hampir 800 tahun, hingga akhirnya kerajaan Islam terakhir di Granada jatuh pada 1492 M. Meski kekuasaan Muslim telah tiada, warisan mereka tetap menjadi bagian integral dari identitas budaya Spanyol yang majemuk hingga saat ini.
2. Rusia: Islam Lebih Tua dari Kristen Ortodoks
Siapa sangka, Islam masuk ke Rusia lebih dulu daripada agama Kristen Ortodoks masuk ke wilayah itu?
Fakta mencengangkan: pada tahun 922 M, Kekhanan Volga-Bulgaria secara resmi menjadikan Islam sebagai agama negara—66 tahun lebih awal dari penerimaan Kristen Ortodoks sebagai agama resmi Kievan Rus. Ini menjadikan Volga-Bulgaria sebagai negara Muslim pertama di wilayah Rusia.
Pada abad ke-13, Golden Horde membawa gelombang baru penyebaran Islam, dan kemudian muncullah Kesultanan Kazan yang mencapai kejayaan pada abad ke-15. Namun pada 1552, Kazan ditaklukkan oleh Ivan the Terrible, dan Masjid Kul Sharif yang megah—ikon kejayaan Islam di kawasan itu—dihancurkan.
Hari ini, Islam bangkit kembali di Rusia. Masjid Kul Sharif dibangun ulang pada 1996 dan menjadi salah satu masjid terbesar di Eropa. Masjid Agung Moskow yang diresmikan 2015 mampu menampung lebih dari 10.000 jamaah. Sekitar 10-15 persen populasi Rusia kini adalah Muslim.
3. Cina: Masjid Tertua di Luar Jazirah Arab
Cina dan Islam? Hubungannya ternyata sudah berusia lebih dari 1.300 tahun!
Kisahnya bermula ketika Khalifah Utsman bin Affan mengirim delegasi Islam ke Cina di bawah pimpinan Sa'ad bin Abi Waqqas—paman Nabi Muhammad SAW—pada tahun 651 M, di masa Dinasti Tang. Kaisar Gaozong, meskipun menolak seruan Islam secara lisan, sangat menghormati ajaran Islam dan merestui pembangunan masjid pertama di Cina.
Masjid itu diberi nama Huaisheng (Masjid Memorial)—yang berarti "mengenang Nabi yang agung"—dan hingga kini masih berdiri di Kota Xi'an. Ini menjadikannya masjid tertua di Cina sekaligus masjid tertua di luar Jazirah Arab. Menara azannya setinggi 36 meter, yang disebut Guangta (Menara Cahaya), menjadi bangunan tertinggi di Xi'an selama berabad-abad dan berfungsi sebagai mercusuar bagi kapal-kapal dagang.
Saat ini, Islam telah mencapai lebih dari 20 juta pengikut di Cina, dengan komunitas Muslim tersebar di berbagai wilayah seperti Xinjiang, Ningxia, dan Gansu.
4. India: Masjid Pertama Sejak Masa Nabi
Tahukah Anda bahwa Islam masuk ke India pada abad ke-7—hampir sezaman dengan dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah?
Menurut satu versi, Malik Ibnu Dinar dan 20 sahabat Rasulullah SAW adalah orang-orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di India, menginjakkan kaki di Kodungallur, Kerala. Di sinilah berdiri Masjid Cheraman Juma—masjid pertama di India, yang dibangun pada tahun 629 M—masih dalam masa hidup Nabi Muhammad SAW! Bentuknya yang mirip candi Hindu menjadi bukti akulturasi budaya yang indah.
Setelah itu, Islam masuk ke India melalui tiga gelombang: pedagang Arab (abad ke-7/8), ekspansi militer dari Persia (abad ke-11), dan yang terbesar adalah Kesultanan Mughal (1526-1858). Di bawah Mughal, lahirlah mahakarya arsitektur dunia: Taj Mahal, Red Fort, dan Fatehpur Sikri. Selama tiga setengah abad, imperium Islam ini menguasai wilayah yang mayoritas penduduknya Hindu—sebuah bukti toleransi dan perpaduan peradaban yang luar biasa.
5. Afrika Selatan: Sang Ulama dari Nusantara
Jejak Islam di ujung selatan Afrika ternyata erat kaitannya dengan sejarah Indonesia!
Tokoh paling penting dalam sejarah Islam Afrika Selatan adalah Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama besar kelahiran Gowa, Sulawesi Selatan (1626-1699). Karena melawan penjajahan Belanda di Banten, ia diasingkan ke Afrika Selatan pada 1694 sebagai tahanan politik.
Di negeri buangan, Syekh Yusuf bersama para pengikutnya membangun komunitas Muslim pertama di Cape Town, di sebuah lahan pertanian di Zandvliet. Ajaran dan perjuangannya begitu membekas hingga Nelson Mandela mengakui inspirasinya dari Syekh Yusuf dalam memperjuangkan pembebasan Afrika Selatan dari apartheid.
Komunitas yang dirintisnya kini dikenal sebagai Cape Malays—keturunan campuran Indonesia, India, Arab, dan lokal—yang berjumlah sekitar 800.000 orang. Kini sekitar 1,5 persen dari 57 juta penduduk Afrika Selatan adalah Muslim.
6. Etiopia: Negeri Perlindungan Pertama dalam Sejarah Islam
Ini mungkin fakta paling mengharukan: sebelum hijrah ke Madinah, para sahabat Nabi berlindung di Etiopia—sebuah negeri Kristen!
Pada tahun 615 M, ketika umat Muslim di Makkah mendapat tekanan berat dari kaum Quraisy, Nabi Muhammad SAW memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Habasyah (sekarang Etiopia). Di antara yang ikut berhijrah adalah Usman bin Affan dan istrinya, putri Nabi SAW. Hijrah pertama diikuti 11 orang, dan hijrah kedua menyusul dengan 83 sahabat yang dipimpin Ja'far bin Abi Thalib.
Mengapa Etiopia? Karena Raja Najasyi (Ashama bin Abjar) dikenal sebagai penguasa yang adil, lapang hati, dan suka menerima tamu. Ketika utusan Quraisy datang meminta para sahabat dikembalikan, raja menolak dengan tegas. Bahkan, setelah mendengar ayat-ayat Al-Quran, Najasyi bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah—seorang raja Kristen yang melindungi umat Islam.
Etiopia, dengan sekitar 35 juta Muslim (32% dari populasi), menyimpan kota suci Harar yang ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 2006.
7. Suriname: Persentase Muslim Tertinggi di Benua Amerika
Negara kecil di Amerika Selatan ini menyimpan rekor mengejutkan: Suriname adalah negara dengan persentase umat Islam tertinggi di seluruh benua Amerika!
Sekitar 14 persen penduduk Suriname adalah Muslim—terbanyak di antara negara-negara Amerika. Bagaimana bisa? Sejarahnya dimulai ketika Belanda, setelah menghapus perbudakan pada 1863, mendatangkan pekerja kontrak dari India dan Indonesia (Jawa) antara 1873 hingga 1940 untuk menggantikan tenaga budak di perkebunan.
Inilah yang menciptakan keunikan Islam Suriname: komunitas Muslim di sana terbagi antara keturunan India yang mengikuti mazhab Hanafi dan keturunan Jawa yang mengikuti mazhab Syafi'i.
Cerita menarik terjadi pada awal kedatangan imigran Jawa. Mereka membangun masjid dengan arah menghadap ke barat—sama seperti yang mereka lakukan di Jawa. Baru pada tahun 1930-an mereka menyadari bahwa arah kiblat yang benar dari Suriname adalah menghadap ke timur, yang sempat menimbulkan perdebatan sengit!
Kini Suriname memiliki lebih dari 100 masjid, termasuk Masjid Keizerstraat yang bersejarah di ibu kota Paramaribo. Hari Raya Idul Fitri bahkan diakui sebagai hari libur nasional.
8. Inggris: Muslim di Istana Ratu Elizabeth
Jejak Islam di Inggris ternyata sudah dimulai sejak abad ke-16, dan kisahnya sangat erat kaitannya dengan politik Eropa saat itu.
Kedatangan umat Islam ke Inggris pada masa Ratu Elizabeth I (memerintah 1558-1603) justru dipicu oleh pengucilan sang ratu oleh Paus Pius V pada tahun 1570. Karena tidak lagi terikat dengan larangan Paus yang melarang perdagangan antara Kristen dan Muslim, Ratu Elizabeth menjalin aliansi komersial dan politik dengan berbagai negara Islam, termasuk Dinasti Saadi Maroko, Kekhalifahan Usmaniyah, dan Kekaisaran Persia Syiah.
Sejak saat itu, para Muslim dari Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Tengah berdatangan ke London, bekerja sebagai diplomat, pedagang, penerjemah, musisi, hingga pegawai istana. Salah satu kisah menarik adalah Aura Soltana, seorang budak Muslim Tatar yang menjadi dayang kesayangan Ratu Elizabeth dan bahkan memengaruhi gaya berpakaian sang ratu. Pada tahun 1586, Francis Drake bahkan membawa ratusan tawanan perang Turki ke Inggris.
Bahkan, bukti arkeologis menunjukkan kontak antara Muslim dan Kepulauan Inggris sudah terjadi sejak abad ke-8, dan pada tahun 817 M, ilmuwan Muslim Al-Khawarizmi telah menulis peta dunia yang memuat gambar sejumlah tempat di Inggris. Saat ini, Islam adalah agama terbesar kedua di Inggris dengan komunitas yang sangat beragam.
9. Perancis: Sejak Abad Ke-8 dan Perang Salib
Perancis memiliki salah satu sejarah interaksi dengan Islam yang paling panjang di Eropa, bahkan jauh sebelum era kolonial.
Kontak pertama Perancis dengan Islam terjadi pada abad ke-8 M di wilayah Perancis bagian selatan, ketika pasukan Muslim memasuki wilayah yang kini dikenal sebagai Perancis. Pada tahun 838 M, pasukan Muslim tercatat pernah menyerbu Marseille di Perancis selatan dan menjarah rumah-rumah ibadah di sana.
Proses Islamisasi di Perancis diperkirakan berlanjut sejak Perang Salib (abad ke-11 hingga ke-13), ketika terjadi interaksi intensif antara dunia Kristen dan Islam. Namun gelombang besar berikutnya baru terjadi pada tahun 1830, seiring dengan dimulainya era kolonialisme Perancis di Afrika Utara (terutama Aljazair, Tunisia, dan Maroko), yang membawa masuk imigran Muslim dalam jumlah signifikan.
Saat ini, Perancis memiliki populasi Muslim terbesar di Eropa, dengan sekitar 5 juta jiwa dan lebih dari 2.500 masjid. Islam menjadi agama terbesar kedua di Perancis setelah Kristen. Meski demikian, kehidupan umat Islam di Perancis kerap diwarnai berbagai problematika, seperti pelarangan penggunaan jilbab.
10. Jerman: Sejak Tawanan Perang Ottoman
Jerman juga memiliki sejarah panjang dengan Islam, yang dimulai dari hubungan diplomatik dan militer dengan Kekaisaran Ottoman.
Perkenalan antara Jerman dan Islam sudah terjadi sejak masa Khalifah Harun al-Rashid pada abad ke-8, yang menjalin hubungan dengan Raja Charlemagne dari kaum Frank di wilayah Jerman. Namun Muslim pertama yang tercatat tinggal di Jerman adalah tawanan perang dari Pengepungan Wina oleh Ottoman pada tahun 1683.
Pada tahun 1745, Frederick II dari Prusia mendirikan unit militer Muslim dalam tentara Prusia yang disebut "Penunggang Muslim", yang sebagian besar terdiri dari orang Bosnia, Albania, dan Tatar. Pemakaman Muslim pertama di Jerman didirikan di Berlin pada tahun 1798, dan masjid pertama dibangun pada tahun 1915 di kamp tawanan perang Wünsdorf.
Gelombang besar berikutnya terjadi pada tahun 1961, ketika Pemerintah Jerman Barat mengundang pekerja asing (Gastarbeiter) dari Turki, yang menyebabkan jumlah Muslim melonjak tajam hingga mencapai jutaan. Saat ini, sekitar 5,4 hingga 5,7 persen populasi Jerman adalah Muslim, menjadikannya negara dengan populasi Muslim terbesar kedua di Eropa setelah Perancis. Mayoritas Muslim Jerman berasal dari Turki (sekitar 1,5 juta jiwa).
Penutup: Islam adalah Peradaban Global
Dari Semenanjung Iberia di Eropa hingga pedalaman Amazon di Amerika Selatan, dari padang salju Rusia hingga Tembok Besar Cina—jejak Islam tersebar di hampir setiap penjuru dunia. Sepuluh negara yang telah kita jelajahi di atas hanyalah sebagian kecil dari mozaik besar peradaban Islam yang mendunia.
Menariknya, di setiap wilayah, Islam hadir dengan wajah yang berbeda-beda, sesuai dengan konteks zaman dan budayanya:
Ekspansi militer dan kekuasaan membawa Islam ke Spanyol (Al-Andalus) dan Rusia (Volga Bulgaria, Golden Horde), melahirkan imperium-imperium besar yang mengubah peta politik dunia.
Perdagangan dan dakwah damai menjadi pintu masuk Islam ke India dan Cina, di mana para saudagar Muslim berbaur dengan masyarakat lokal tanpa pertumpahan darah.
Perlindungan politik menjadikan Etiopia sebagai negeri pertama yang melindungi para sahabat Nabi dari penganiayaan, sementara pengasingan politik membawa Syekh Yusuf Al-Makassari merintis komunitas Muslim di ujung selatan Afrika.
Aliansi diplomatik membawa Muslim ke istana Ratu Elizabeth I di Inggris, menjalin kerjasama lintas agama demi kepentingan politik dan perdagangan.
Imigrasi tenaga kerja dan tawanan perang menghadirkan komunitas Muslim di Suriname (dari India dan Jawa), Jerman (tawanan Ottoman dan Gastarbeiter Turki), serta Perancis (dari koloni Afrika Utara)—membuktikan bahwa Islam juga menyebar melalui pergerakan manusia modern.
Yang pasti, di mana pun Islam hadir, ia tidak pernah meninggalkan ruang kosong. Ia meninggalkan warisan abadi: masjid-masjid tua yang masih berdiri kokoh (seperti Masjid Huaisheng di Cina dan Masjid Cheraman Juma di India), arsitektur nan memukau (Alhambra di Spanyol, Taj Mahal di India, Masjid Kul Sharif di Rusia), tradisi kuliner yang kaya, sistem irigasi dan pertanian yang maju, hingga nilai-nilai toleransi yang bahkan menginspirasi perjuangan pembebasan—seperti yang diakui oleh Nelson Mandela tentang pengaruh Syekh Yusuf di Afrika Selatan.
Sepuluh negara di atas hanyalah permulaan dari cerita besar ini. Masih banyak lagi negeri dengan jejak Islam yang menggugah: Italia dengan kejayaan Islam di Sisilia selama 200 tahun, Portugal dengan warisan Al-Gharb yang masih terasa hingga kini, Thailand dengan Kesultanan Patani yang pernah berjaya, Hungaria dengan peninggalan Ottoman di Budapest, hingga Amerika Serikat dengan teori kedatangan Muslim pra-Columbus yang masih terus diteliti.
Sejarah Islam bukanlah sejarah satu bangsa, satu ras, atau satu kawasan. Ia adalah sejarah peradaban manusia. Sebuah kisah tentang bagaimana sebuah pesan tauhid mampu melintasi lautan, gunung, dan gurun; beradaptasi dengan ratusan budaya berbeda; dan meninggalkan cahaya yang masih bersinar hingga hari ini. ✨
No comments:
Post a Comment